PENGARUH EKSTRAK MENGKUDU TERHADAP KADAR MDA DARAH
DAN AKTIVITAS KATALASE TIKUS DM
YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Husnil
Kadri
ABSTRAK
Diabetes Melitus (DM) yang
tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan terjadinya stres oksidatif.
Stres oksidatif adalah keadaan dimana produksi radikal bebas melebihi kemampuan
antioksidan dalam tubuh untuk meredamnya. Produksi radikal bebas yang
berlebihan menyebabkan kerusakan oksidatif yang dapat terjadi pada lipid,
protein dan DNA. Untuk mengantisipasi efek radikal bebas pada DM dan
kemungkinan terjadinya komplikasi, maka diperlukan tambahan antioksidan
eksogen. Salah satu tanaman yang mengandung bahan aktif antioksidan adalah
mengkudu (Morinda citrifolia linn). Penelitian ini bertujuan mengetahui
pengaruh pemberian ekstrak mengkudu terhadap kadar MDA darah dan aktivitas
katalase tikus yang menderita diabetes melitus akibat pemberian aloksan.
Penelitian eksperimental ini menggunakan 12 ekor
tikus putih dengan berat badan 200-250 gram yang dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu kelompok kontrol negatif (hanya diberi makan dan minum), kelompok kontrol
positif (makan dan minum,serta diinduksi aloksan), kelompok perlakuan (makan
dan minum, diinduksi aloksan, dan diberi ekstrak mengkudu (500 mg/kg BB/hari)
selama 12 hari. Data yang diperoleh dianalisa secara statistik dengan uji Anova
dengan derajat kepercayaan 95 %.
Hasil penelitian menunjukkan
rata-rata kadar MDA darah kelompok kontrol negatif (4,261±0,427 nmol/ml), kelompok
kontrol positif (5,605±0,391 nmol/ml), kelompok perlakuan (4,261±0,427 nmol/ml) dan rata-rata
aktivitas katalase kelompok kontrol negatif (6,580±0,277 unit/mg), kelompok
kontrol positif (4,954±0,485 unit/mg), kelompok perlakuan (6,314±0,651 unit/mg). Hasil
penelitian tersebut menunjukkan adanya
perbedaan yang bermakna pada rata-rata kadar MDA darah dan aktivitas katalase
tikus pada ketiga kelompok penelitian (p<0,05),
sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak mengkudu berpengaruh
terhadap kadar MDA darah dan aktivitas katalase tikus DM yang diinduksi
aloksan.
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
dari ekor Pola penyakit di
Indonesia selama kurun waktu 60 tahun merdeka telah mengalami perubahan.
Penyakit infeksi dan kekurangan gizi berangsur turun sedangkan penyakit
degeneratif, di antaranya diabetes meningkat dengan tajam. Perubahan pola
penyakit itu berhubungan dengan cara hidup yang berubah. Pola makan tradisional
yang mengandung banyak karbohidrat dan serat dari sayuran beralih ke pola makan
siap saji. Di samping itu cara hidup yang sibuk dengan pekerjaan menyebabkan
kurangnya kesempatan untuk berolahraga. Pola hidup berisiko seperti inilah yang
menyebabkan tingginya kekerapan penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes,
dan hiperlipidemia.(Slamet S, 2006).
Diabetes Melitus adalah
suatu sindrom yang ditandai hiperglikemia dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak yang disebabkan oleh defisiensi absolut atau
relatif dari sekresi insulin dan atau diduga seseorang menderita diabetes
melitus bila ditemukan keluhan yang khas seperti polifagi, polidipsi, poliuria
dan berat badan yang menurun (Swa K, 2004).
Penderita diabetes melitus
di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut WHO, pada tahun 2000
jumlah penderita diabetes melitus di dunia mencapai 171 juta jiwa. Pada tahun
2030, jumlah penderita diabetes melitus di dunia diperkirakan meningkat menjadi
366 juta jiwa. Penderita diabetes melitus di Indonesia pada tahun 2000 mencapai
8.426.000 jiwa. Pada tahun 2020, diperkirakan jumlahnya meningkat menjadi 21.257.000 jiwa. (WHO, 2001).
Hiperglikemia pada diabetes
melitus terlibat dalam pembentukan radikal bebas. Hiperglikemia menyebabkan
autooksidasi glukosa, glikasi protein, dan aktivasi jalur metabolisme poliol
yang selanjutnya mempercepat pembentukan senyawa oksigen reaktif. Pembentukan
senyawa oksigen reaktif tersebut dapat meningkatkan modifikasi lipid, DNA, dan
protein pada berbagai jaringan. Modifikasi molekuler pada berbagai jaringan
tersebut mengakibatkan ketidakseimbangan antara antioksidan protektif
(pertahanan antioksidan) dan peningkatan produksi radikal bebas. Hal ini
merupakan awal kerusakan oksidatif yang dikenal sebagai stres oksidatif. Dampak
negatif pada membran sel akan terjadi reaksi rantai yang disebut peroksidasi
lipid. Akibat akhir dari rantai reaksi ini adalah terputusnya rantai asam lemak
menjadi berbagai senyawa yang toksik terhadap sel, antara lain Malondialdehid
(MDA), etana, dan pentana (Purnomo S,2000).
Untuk meredam kerusakan oksidatif
tersebut diperlukan antioksidan (Bambang S dan Eko S, 2005). Antioksidan adalah
senyawa-senyawa yang dapat meredam dampak negatif oksidan (Purnomo S,2000).
Berdasarkan sumbernya, antioksidan ada 2, yaitu antioksidan endogen dan
antioksidan eksogen. Antioksidan endogen berasal dari dalam tubuh sendiri,
terdiri dari Super Oksida Dismutase (SOD), glutation peroksidase, dan katalase.
Antioksidan eksogen diperoleh dari luar melalui makanan yang kita makan untuk
membantu tubuh melawan kelebihan radikal bebas dalam tubuh. Peningkatan suplai
antioksidan yang cukup akan membantu pencegahan komplikasi klinis diabetes
melitus (Bambang S dan Eko S, 2005).
Mengkudu
(Morinda Citrifolia linn) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang
mengandung bahan aktif antioksidan (Eko S,Bambang S, Edyson, dkk., 2005).
Mengkudu mengandung Selenium yang berfungsi penting untuk mengaktifkan
glutation peroksidase, yaitu salah satu enzim yang sangat penting dalam tubuh
yang menetralisir radikal-radikal bebas, terutama yang menyerang molekul lemak.
(Purbaya JR, 2002; Kusnindar A dan Mitra R, 2003). Mengkudu juga mengandung
vitamin A dan vitamin C. Selain itu, mengkudu juga mengandung berbagai komponen
aktif yang penting bagi tubuh, seperti senyawa-senyawa terpenoid, damnacanthal, xeronine, proxeronine, anthraquinone, dan scopoletin (Christina W, 2005).
Beberapa
peneliti telah melakukan pengujian aktivitas antioksidan buah mengkudu. Hasil
penelitian Wang dan Su (2001) membuktikan bahwa jus mengkudu sangat potensial
untuk menghambat radikal bebas. Aktifitas antioksidan jus mengkudu 2,80x lebih
kuat dari vitamin C, 1,40x lebih kuat dari pikogenol, dan 1,10x lebih kuat dari
biji anggur (Christina W, 2005). Penelitian Eko Suhartono dkk pada tahun 2005
membuktikan bahwa jus buah mengkudu mampu menurunkan laju pembentukan AGEs (Advanced Glycation End Products) dan
berperan sebagai senyawa antioksidan. Aktifitas antioksidan jus buah mengkudu
konsentrasi 0,25 g/ml adalah 125,46 ±
27,79 %. (Eko Suhartono dkk, 2005). Penelitian yang dilakukan Suweino dkk
membuktikan bahwa pemberian sari mengkudu secara oral dapat melindungi hati
tikus dari kerusakan akibat stres oksidatif pada keracunan CCl
. (Suweino,Parwati A,Nur A,dkk., 2004).
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis ingin mengetahui bagaimana pengaruh
pemberian ekstrak mengkudu terhadap kadar MDA darah dan aktivitas katalase
tikus yang diinduksi aloksan. MDA terbentuk dari peroksidasi lipid pada membran
sel. Katalase adalah enzim antioksidan yang secara spesifik mengkatalisis
dekomposisi hidrogen peroksida (Sulistyowati T, 2000). Pemeriksaan kadar MDA
darah menggunakan metode Placer, Cushman, dan Johnson. Aktivitas katalase
memakai metode kalorimetrik dengan menggunakan alat Spektrofotometer
“Spectronic 21”.
II.METODE
PENELITIAN
4.1.
Tempat Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Padang, Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Kimia Bahan Alam jurusan
Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas
Padang
4.2.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan tikus sebagai hewan coba.
4.3.
Sampel dan
Besar Sampel
Sampel
dari penelitian ini adalah tikus putih sebanyak 12 ekor yang dipilih secara
acak yang terdiri dari tikus jantan dan betina dengan berat badan berkisar
200-250 gram. Besar sampel ditentukan dengan rumus menurut Fraenkle and Wallen.
(np - 1) – (p -
1) ³ p
Di mana :
p = jumlah kelompok hewan coba
n
= jumlah hewan coba tiap kelompok
(np - 1) – (p -
1) ³ p
(n.3 - 1) – (3 -
1) ³ 3
(3n - 1) – 2 ³
9
3n ³ 12
n ³ 4
4.4.
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
4.4.1.
Variabel Penelitian
Variabel bebas : Pemberian ekstrak mengkudu
Variabel Tergantung : Kadar MDA darah
Aktivitas
katalase
4.4.2.
Definisi Operasional
· Aloksan (2,4,5,6 Tetra oksipirimidin 5,6
dioksiurasil) merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes
pada binatang percobaan. Dosis aloksan yang digunakan untuk menginduksi
diabetes tergantung kepada spesies percobaan. Penelitian ini menggunakan
aloksan dengan dosis 150 mg/kg berat badan secara intraperitoneal.
· Ekstrak mengkudu dibuat dari buah mengkudu
segar yang melalui tahapan tertentu sehingga didapatkan ekstrak mengkudu yang
kental. Ekstrak mengkudu ini disuspensikan dalam Na CMC 1 % kemudian diberikan
secara oral ke tikus dengan dosis 500 mg/kg BB/hari.
· Malondialdehid (MDA) adalah salah satu
senyawa yang dihasilkan oleh pemecahan lipid peroksida
· Aktifitas katalase dinyatakan sebagai
banyaknya H
O
(dalam
mikromol) yang dihancurkan oleh katalase per menit dalam 1 mg/ml protein.
4.5.
Alat dan
Bahan
4.5.1. Alat-alat
· seperangkat tempat pemeliharaan tikus
· sonde oral
· timbangan
· seperangkat alat bedah minor
· spektrofotometer
· sentrifus
· seperangkat tabung reaksi
· water bath
· pipet
· vortex
· seperangkat alat destilasi vakum
· rotary evaporator
· blender
4.5.2.
Bahan-bahan
· makanan standar
· buah mengkudu
· etanol 96 %
· serum sampel
· Na-thio barbiturate acid (Na-TBA) 1 %
· Larutan tris TCA 100%
· HCL 1 M
· Aquades
· H
O
0,2 M
· Larutan Buffer Fosfat pH 7
· Potassium dikromat 5 %
· Asam asetat glacial
· Larutan Kingsley
4.6.
Prosedur Kerja
4.6.1.
Persiapan alat dan bahan
4.6.2.
Persiapan hewan percobaan
Sebelum
perlakuan, 12 ekor tikus terlebih dahulu diaklimatisasi dalam kondisi
laboratorium selama satu minggu dengan diberi makan yang cukup. Pada hari
terakhir, diukur kadar glukosa darah puasa. Tikus yang dipilih adalah tikus
yang mempunyai kadar gula darah normal (90-110 mg/dl). Pengukuran kadar glukosa
darah dilakukan dengan menggunakan glucose meter (gluco-DR). Darah diambil
tikus.
4.6.3. Pembuatan ekstrak mengkudu
Buah mengkudu segar diiris-iris dengan pisau, dihaluskan
dengan blender. Kemudian buah mengkudu dimaserasi dengan etanol 96 % sampai
semuanya terendam. Diaduk sekali-sekali dan dibiarkan selama 5 hari kemudian
disaring dan ampasnya dimaserasi lagi. Perlakuan ini dilakukan secara berulang
sebanyak tiga kali yang masing-masingnya selama 5 hari. Semua filtrat
disatukan, kemudian didestilasi vakum dan hasil destilat dikentalkan dengan
menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental (Nasir,SM,1998)
4.6.4. Perencanaan dosis
A.
Aloksan 150 mg/kg BB
B.
Ekstrak mengkudu 500 mg/kg BB/hari
4.6.5. Perlakuan pada hewan coba
12 ekor
tikus yang mempunyai kadar gula darah puasa normal dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu :
· Kelompok I (Kontrol negatif) tikus tidak
diinduksi aloksan dan tidak diberi
ekstrak mengkudu hanya diberi makan dan minum.
· Kelompok II (Kontrol positif) tikus
diinduksi aloksan secara intraperitoneal dengan dosis 150 mg/kg BB dan tidak
diberi ekstrak mengkudu
· Kelompok III (Perlakuan) tikus diinduksi
aloksan secara intraperitoneal dengan dosis 150 mg/kg BB dan diberi ekstrak
mengkudu secara oral dengan dosis 500mg/kg BB
Khusus untuk kelompok II dan III beberapa hari setelah penginduksian
aloksan segera dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah karena pemberian
ekstrak mengkudu dilakukan jika kadar glukosa darah tikus di atas 200 mg/dl (5
–6 hari). Ekstrak mengkudu yang diberikan mempunyai dosis 500 mg/kg BB per oral
selama 12 hari (Kelompok III). Sedangkan untuk pengukuran kadar MDA darah dan
uji aktivitas katalase dilakukan pada hari terakhir penelitian.
4.7. Kerangka Operasional Penelitian
4.8.
Pemeriksaan Kadar MDA Darah
Pemeriksaan kadar MDA darah menggunakan metode Placer,
Cusman, dan Johnson dengan uji Thio Barbiturat Acid (TBA) dan pembacaannya
dengan menggunakan Spektrofotometer “Spectronic 21” pada panjang gelombang 532
nm .Cara Kerja :
1.
Ambil darah tikus 5 cc kemudian sentrifugasi selama 15
menit (1000 rpm).
2.
Serum sampel dipipet 1 cc dan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi 10 ml.
3.
Tambahkan 100 ml
TCA 100 %, lalu divortex.
4.
Tambahkan 250 mL
HCL 1 M, lalu divortex dan sentrifugasi selama 15 menit (500 rpm).
5.
Ambil supernatannya dan tambahkan Na-Thio 100 ml, lalu divortex.
6.
Kemudian masukkan ke dalam water bath 100 derajat
Celcius selama 20 menit.
7.
Angkat dan biarkan dingin dalam suhu kamar.
8.
Baca dengan spektrofotometer “Spectronic 21” pada
panjang gelombang 532 nm.
4.9.
Uji
Aktivitas Katalase
Uji ini disebut metode Kalorimetrik dengan menggunakan warna
sebagai indikator .
Satu unit aktivitas katalase dinyatakan sebagai banyaknya H
O
(dalam
mikromol) yang dihancurkan oleh katalase per menit dalam tiap 1 mg/ml protein.
Reagen :
· Campuran 50 ml Potassium dichromate 5 %
dengan 150 ml Asetat glacial
· H
O
0,2 M
· 250 ml Buffer Phospat pH 7 dengan
konsentrasi 0,01 M
Pembuatan Kurva Standar :
Isilah 9
tabung dengan H
O
dengan jumlah
yang berbeda-beda (10 sampai 160 micromol). Pada tiap tabung ditambahkan 2 ml
dichromate/asetat glacial, bila terbentuk presipitat biru maka lakukan hal
berikut :
1.
Panaskan tiap tabung selama 10 menit di dalam air
mendidih pada water bath untuk mendekomposisi presipitat biru hingga muncul
warna hijau dari chromic asetat.
2.
Dinginkan pada suhu kamar, dan tambahkan pada tiap
tabung H
O hingga volumenya mencapai 3 ml.
3.
Pindahkan 3 ml larutan tersebut ke dalam cuvete dan
ukur absorbannya pada panjang gelombang 570 nm. Ulangi pada lima tabung
lainnya.
4.
Gunakan data tersebut untuk membuat grafik dengan
absorban pada sumbu Y dan konsentrasi H
O
pada sumbu X
Pengujian :
1.
Masukkan 800 mikromol (0,0008 mol) H
O
ke dalam
tabung. Ini sama dengan 4 ml larutan H
O
0,2 M
2.
Tambahkan 5 ml buffer Phospat
3.
Tambahkan 1 ml serum dan homogenkan dengan perlahan.
4.
Ambil 1 ml dari hasil reaksi ini, dan tambahkan ke
dalam 2 ml dichromate/asetat glacial. Dengan tabung yang berbeda ulangi
prosedur ini dengan interval 60 detik.
5.
Panaskan tabung selama 10 menit pada air mendidih untuk
menghilangkan presipitat biru dan menghasilkan larutan hijau.
6.
Ukur absorban pada panjang gelombang 570 nm.
7.
Gunakan kurva standar untuk menentukan berapa banyak H
O
yang tersisa di
dalam serum saat reaksi dihentikan oleh asam asetat.
8. Setelah didapatkan jumlah H2O2
(mikromol) yang tersisa, maka untuk mendapatkan berapa banyak H2O2
yang telah dihancurkan oleh katalase adalah: H2O2 yang
direaksikan (800 mikromol)-H2O2 yang tersisa.
9.
Aktivitas katalase (unit/mg) = H2O2
yang dihancurkan katalase/menit
Kadar Protein serum (mg/ml)
Penentuan Kadar Protein
1.
Masukkan 0,005 ml serum ke dalam tabung reaksi.
2.
Tambahkan 3 ml larutan Kingsley dan homogenkan dengan
perlahan dan dibiarkan pada suhu kamar selama 15 menit.
3.
Setelah 15 menit, baca absorbannya pada panjang
gelombang 536 nm.
4.
Lakukan juga prosedur ini pada serum standar yang telah
diketahui kadar proteinnya sebagai perbandingan.
5.
Absorban yang didapat dimasukkan ke dalam rumus :
A standar
4.10.
Pengolahan dan Analisa Data
Data yang
diperoleh diolah dan dianalisis dengan Anova dengan derajat kepercayaan 95 %.
Jika terdapat perbedaan bermakna antara ketiga kelompok perlakuan (p< 0,05),
maka dilanjutkan dengan Post Hoc Test.
i. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian ekstrak mengkudu terhadap kadar MDA darah dan aktivitas katalase tikus DM yang diinduksi aloksan. Sampel dibagi dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif yang hanya diberi makan dan minum, kelompok kontrol positif yang diinduksi aloksan, dan kelompok perlakuan yang diinduksi aloksan dan diberi ekstrak mengkudu 500 mg/kg BB selama 12 hari. Pada penelitian ini juga dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa tikus yang dapat dilihat pada Lampiran 1.
Hasil yang
diperoleh pada pengukuran kadar MDA darah dan pengujian aktivitas katalase
adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1. Kadar MDA Darah Tikus pada Ketiga Kelompok Penelitian
|
No
|
Kadar MDA Darah (nmol/ml)
|
p
|
||
|
Kontrol Negatif
|
Kontrol Positif
|
Ekstrak Mengkudu
|
Value
|
|
|
1
|
3,77
|
5,265
|
4,127
|
0,003
|
|
2
|
4,038
|
6,112
|
5,042
|
|
|
3
|
4,594
|
5,332
|
4,662
|
|
|
4
|
4,64
|
5,71
|
4,885
|
|
|
Rata-rata
|
4,261
|
5,605
|
4,679
|
|
|
SD
|
0,427
|
0,391
|
0,4
|
|
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa kadar rata-rata MDA
darah kelompok kontrol negatif adalah 4,261±0,427 nmol/ml, kadar rata-rata MDA
darah kelompok kontrol positif adalah 5,605±0,391 nmol/ml, dan kadar rata-rata
MDA darah kelompok perlakuan (ekstrak mengkudu) adalah 4,679±0,399 nmol/ml.
Berdasarkan analisis statistik Anova pada ketiga kelompok penelitian dengan
derajat kepercayaan 95 % didapatkan p = 0,003 (p<0,05). Hasil ini
menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara ketiga kelompok penelitian. Oleh
sebab itu, analisis statistik dapat dilanjutkan dengan Post Hoc Tests Multiple
Comparison (Tukey HSD). Hasilnya dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut ini.
Tabel 3.2. Tingkat
Kemaknaan Hasil Uji Tukey HSD terhadap Kadar MDA Darah Tikus
|
Kelompok
|
Kelompok
|
Perbedaan rata-rata
|
Standar Error
|
Probabilitas
(p)
|
|
Kontrol
negatif
|
Kontrol
positif
Perlakuan
|
-1.344025*
-.418250
|
. 2872020
. 2872020
|
.003
.355
|
|
Kontrol
positif
|
Kontrol
negatif
Perlakuan
|
1.344025*
.925775*
|
.
2872020 .2872020
|
.003
.026
|
|
Perlakuan
(ekstrak mengkudu)
|
Kontrol
negatif
Kontrol positif
|
.418250
-.925775*
|
. 2872020
. 2872020
|
.355
.026
|
(α = 95 %, p < 0,05, *terdapat
perbedaan bermakna)
Berdasarkan
tabel 5.2. tampak bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol
negatif dengan kelompok kontrol positif (p<0,05) dan kelompok kontrol
positif dengan kelompok perlakuan (p<0,05).
Tabel3.3. Aktivitas Katalase Tikus pada Ketiga Kelompok Penelitian
|
No
|
Aktifitas Katalase (unit/mg)
|
p
|
||
|
|
Kontrol Negatif
|
Kontrol Positif
|
Ekstrak Mengkudu
|
Value
|
|
1
|
6,331
|
5,551
|
6,453
|
0,003
|
|
2
|
6,951
|
4,625
|
5,367
|
|
|
3
|
6,412
|
5,138
|
6,843
|
|
|
4
|
6,625
|
4,5
|
6,594
|
|
|
Rata-rata
|
6,58
|
4,954
|
6,314
|
|
|
SD
|
0,277
|
0,485
|
0,651
|
|
Berdasarkan tabel
5.3 di atas tampak bahwa rata-rata aktivitas katalase kelompok kontrol
negatif adalah 6,580 ± 0,277 unit/mg, rata-rata aktivitas katalase kelompok
kontrol positif adalah 4,954 ± 0,485
unit/mg, dan rata-rata aktivitas katalase
kelompok perlakuan (ekstrak mengkudu) adalah 6,314 ± 0,651 unit/mg. Berdasarkan analisis
statistik Anova pada ketiga kelompok penelitian dengan derajat kepercayaan 95 %
didapatkan p = 0,003 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan terdapat perbedaan
bermakna antara ketiga kelompok penelitian. Oleh sebab itu, analisis statistik
dapat dilanjutkan dengan Post Hoc Tests Multiple Comparison (Tukey HSD).
Hasilnya dapat dilihat pada tabel 5.4.
berikut ini.
Tabel 3.4. Tingkat
Kemaknaan Hasil Uji Tukey HSD terhadap Aktivitas Katalase Tikus
|
Kelompok
|
Kelompok
|
Perbedaan rata-rata
|
Standar Error
|
Probabilitas
(p)
|
|
Kontrol
negatif
|
Kontrol
positif
Perlakuan
|
1.625953*
.265111
|
.3502248
.3502248
|
.019
.737
|
|
Kontrol
positif
|
Kontrol
negatif
Perlakuan
|
-1.625953*
-1.360842*
|
.3502248
.3502248
|
.003
.009
|
|
Perlakuan
(ekstrak mengkudu)
|
Kontrol
negatif
Kontrol positif
|
-.265111
1.360842*
|
.3502248
.3502248
|
.737
.009
|
(α = 95 %, p < 0,05, *terdapat
perbedaan bermakna)
Berdasarkan
tabel 5.3. di atas tampak bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok
kontrol negatif dengan kelompok kontrol
positif (p<0,05) dan kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan
(p<0,05).
3.2. PEMBAHASAN
Diabetes
melitus yang tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan stres oksidatif,
dimana produksi radikal bebas (oksidan) yang melebihi kemampuan antioksidan
tubuh untuk meredamnya (Syafril S, 2000). Kerusakan oksidatif akan membentuk
hasil akhir berupa MDA, 9-hidroksi nonenal, peroksida, dan bermacam-macam
senyawa hidrokarbon yang toksik terhadap sel (Suryohudoyo, 2000). MDA merupakan
salah satu produk final dari lipid peroksida dan parameter yang mudah terdeteksi.
Penelitian
yang dilakukan terhadap 12 ekor tikus dan dibagi menjadi 3 kelompok , yaitu
kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif DM akibat pemberian aloksan,
dan kelompok yang menderita DM akibat pemberian aloksan yang diberikan ekstrak
mengkudu (500 mg/kgBB) secara oral selama 12 hari berturut-turut.
Berdasarkan
pada tabel 5.1. tampak bahwa kadar rata-rata MDA darah kelompok kontrol negatif
adalah 4,261±0,427 nmol/ml dan kelompok kontrol
negatif merupakan kelompok dengan kadar rata-rata MDA darah terendah. Hal ini
menunjukkan kadar MDA darah dalam batas normal karena pada kelompok ini tikus
tidak diberi perlakuan. Berdasarkan
tabel 5.3. rata-rata aktivitas katalase kelompok kontrol negatif adalah 6,580 ± 0,277 unit/mg
dan merupakan rata-rata aktifitas katalase dalam batas normal karena
pada kelompok ini tikus tidak diberi perlakuan.
Berdasarkan tabel 5.1. kadar rata-rata
MDA darah kelompok kontrol positif
adalah 5,605±0,391 nmol/ml dan
kelompok kontrol positif merupakan kelompok dengan kadar rata-rata MDA darah
tertinggi. Hal ini disebabkan pada kelompok kontrol positif diinduksi aloksan
sehingga menyebabkan rusaknya sel beta pankreas. Rusaknya sel beta pankreas
mengakibatkan terjadinya hiperglikemia yang mengakibatkan peningkatan produksi
radikal bebas melalui tiga mekanisme, yaitu peningkatan aktivitas jalur poliol,
glukoautooksidasi, dan glikasi protein. (Bartosikova et al, 2003;Syafril S,
2000). Peningkatan produksi radikal bebas yang menyerang membran sel akan
menghasilkan MDA (Malondialdehid) dalam jumlah yang banyak. Hasil penelitian terhadap
aktivitas katalase pada kontrol positif (tabel 5.3), didapatkan rata-rata
aktivitas katalase kelompok kontrol positif adalah 4,954 ± 0,485 unit/mg. Hasil ini menunjukkan
rata-rata aktivitas katalase yang terendah dibandingkan dua kelompok lainnya.
Hal ini disebabkan sel beta pankreas sangat rentan terhadap kerusakan akibat
radikal bebas karena sistem pertahanan antioksidan
tubuh seperti katalase, Super Oksida Dismutase (SOD), dan Glutation peroksidase
(Gpx) menurun pada keadaan diabetes
(Srinivasan et al., 2003).
Berdasarkan
tabel 5.1 pada kelompok perlakuan yang diinduksi aloksan dan diberi ekstrak
mengkudu dengan dosis 500 mg/Kg BB/hari selama 12 hari, didapatkan rata-rata
kadar MDA darah adalah 4,679±0,400
nmol/ml. Hasil ini lebih rendah dari kelompok kontrol positif yang diinduksi
aloksan dan terdapat perbedaan bermakna dengan kelompok kontrol positif
(p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak mengkudu (500 mg/kg
BB/hari) secara oral pada tikus DM selama 12 hari dapat menurunkan kadar MDA
darah secara signifikan (Lampiran 4). Hasil penelitian pada kelompok perlakuan
terhadap rata-rata aktivitas katalase (tabel 5.3.) adalah 6,314 ± 0,651 unit/mg. Hasil ini lebih tinggi dari
kelompok kontrol positif dan terdapat perbedaan bermakna dengan kelompok
kontrol positif (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak
mengkudu (500 mg/kg BB/hari) secara oral pada tikus DM selama 12 hari dapat
meningkatkan aktivitas katalase.
Penurunan
kadar MDA darah dan peningkatan aktivitas katalase pada kelompok perlakuan di
atas disebabkan pengaruh ekstrak mengkudu yang berfungsi sebagai antioksidan.
Ekstrak mengkudu mengandung berbagai zat aktif yang berperan penting untuk
antioksidan, yaitu vitamin A, vitamin C, Selenium dan Fe (Christina W,2005).
Vitamin A dalam bentuk betakaroten berperan menangkap radikal bebas peroksi di
dalam jaringan pada tekanan parsial oksigen yang rendah (Mayes PA, 2003).
Vitamin C berperan menekan proses aktivasi jalur poliol dan glikasi protein
pada penderita diabetes melitus sehingga produksi radikal bebas menjadi
berkurang (Iqbal K, 2004; Yudkin, John S, 1992). Selenium berperan mengaktifkan
glutation peroksidase yang dapat menetralisir hidrogen peroksida menjadi air
sehingga dapat mengurangi radikal bebas
(Kusnindar A, Mitra R, 2003). Fe berperan penting untuk mengaktifkan beberapa
enzim di dalam tubuh termasuk enzim antioksidan. Semua antioksidan yang
terdapat dalam ekstrak mengkudu di atas bekerja sinergis untuk meredam radikal
bebas pada diabetes melitus. Peran katalase sebagai antioksidan adalah
menguraikan H
O
menjadi H
O dan O
. Jadi kalau aktivitas katalase rendah maka H
O
akan diuraikan
menjadi radikal hidroksil (·OH) yang
sangat toksik terhadap jaringan.
Penelitian
yang dilakukan Suweino dkk menemukan bahwa pemberian sari buah mengkudu pada
tikus yang dipapari CCl
dapat
menurunkan kadar MDA plasma dan MDA hati tikus dibanding kelompok yang dipapari
CCl
tanpa diberi
sari buah mengkudu (Suweino dkk, 2004). Penelitian yang dilakukan Padoli
menemukan bahwa pemberian ekstrak buah mengkudu pada tikus dewasa yang
diinduksi aloksan dapat menurunkan kadar MDA darah dan meningkatkan aktivitas
Superoksida Dismutase (Padoli, 2007).
Berdasarkan
penelitian peneliti dan peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa stres
oksidatif pada diabetes melitus dapat diatasi dengan pemberian ekstrak mengkudu
yang dapat dilihat dari penurunan kadar MDA darah dan peningkatan aktivitas
katalase kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol positif. Dengan
demikian dapat juga disimpulkan bahwa ekstrak mengkudu dapat meredam aktivitas
radikal bebas yang dipicu stres oksidatif akibat induksi aloksan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.Kesimpulan
1. Terdapat
pengaruh pemberian ekstrak mengkudu terhadap penurunan kadar MDA darah tikus DM
yang diinduksi aloksan.
2. Terdapat
pengaruh pemberian ekstrak mengkudu terhadap peningkatan aktivitas katalase
tikus DM yang diinduksi aloksan.
3. Terdapat
hubungan bermakna kadar MDA darah dan aktivitas katalase tikus antara kelompok
kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif serta kelompok kontrol positif dengan kelompok
perlakuan.
4. Tidak
terdapat hubungan bermakna kadar MDA darah dan aktivitas katalase tikus antara
kelompok kontrol negatif dengan kelompok
perlakuan.
4.2.Saran
1. Diperlukan
penelitian lebih lanjut dengan dosis yang bervariasi agar didapatkan dosis
optimal ekstrak mengkudu yang bermanfaat sebagai antioksidan.
2. Diperlukan
penelitian lebih lanjut dengan rancangan Pre and Postest Control Design
sehingga diperoleh hasil yang bermakna antara kelompok kontrol negatif dan
perlakuan
3. Kandungan
ekstrak mengkudu yang kaya dengan berbagai zat aktif, sehingga perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk memisahkan zat aktif tersebut dan pengaruhnya
bagi kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Askandar
Tjokroprawiro,1998. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes. Edisi 2. Jakarta
: Gramedia.
Bambang
Setiawan dan Eko Suhartono, 2005. Stres Oksidatif dan Peran Antioksidan pada
Diabetes Melitus. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol 55, No 2, hal 87-90.
Bambang
Setiawan;Eko Suhartono;Edyson;dkk, 2005. Uji Aktivitas Antioksidan Jus Buah
Mengkudu (Morinda Citrifolia Linn) dan Perannya Sebagai Inhibitor Advanced
Glycation End Products (AGEs) Akibat Reaksi Glikosilasi. Dalam Berkala Ilmu
Kedokteran Vol.37, No. 1, 2005.
Bartosikova L, Necas J, Suchy V, et al.2003. Monitoring of antioxidative
Effect of Morine in Aloxan-Induced Diabetes Melitus in the Laboratory Rat. ACTA
VET. BRNO 2003, 72: 191-200.
Christina
Winarti, 2005. Peluang Pengembangan Minuman Fungsional dari Buah Mengkudu
(Morinda Citrifolia Linn). Jurnal Litbang Pertanian, 24(4), hal 149-153.
Dorland
WA, Newman, 2002. Kamus Kedkteran Dorland. Terjemahan Huriawati Hartanto,dkk.
Edisi 29. Jakarta : EGC.
Iqbal K,
2004. Biological Significance of Ascorbic Acid (Vitamin C) in Human Health – A
Review. Pakistan Journal of Nutrition 3 (1) : 5-13.
Kusnindar
Atmosukarto dan Mitri Rahmawati, 2003. Mencegah Penyakit Degeneratif dengan Makanan. Majalah Cermin Dunia
Kedokteran. No 140, Jakarta : PT Kalbe Farma, hal 41-47.
Mayes PA, 2003.
Struktur dan Fungsi Vitamin Larut Lipid. Dalam Biokimia Harper, Edisi 25.
Jakarta : EGC. hal 615.
McLetchie,
2002. Alloxan Diabetes,A Discovery, Albeit A Minor One. JR Coll Physician Edinb
2002;32:1. Diakses dari www.rcpe.ac.uk/transplantscotland
Moningkey SI, 2000.
Epidemiologi Diabetes Melitus dan Pengendaliannya. Jurnal Kedokteran Farmasi
Medika No.3 Tahun Xxvi : 187-190
Nasir SM,
1988. Isolasi Senyawa-Senyawa Kimia Buah Mengkudu. Dalam buku Kimia dan
Lingkungan. Penyunting Theresia Sita Kusuma. Penerbit : Pusat Penelitian
Universitas Andalas Padang.
Solomon N, 2000.
Noni Scientific Studies and Noni Traditional Uses. Diakses dari
http://www.cnw.com/~timo/scien/scientific.html
Padoli, 2007.
Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia linn) pada
Tikus Dewasa yang Diinduksi Aloksan. Jurnal Universitas Airlangga.
Purnomo Suryohandono, 2000.
Oksidan, Antioksidan, dan Radikal Bebas. Buku Naskah Lengkap Simposium Pengaruh
Radikal Bebas Terhadap Penuaan dalam Rangka Lustrum IX FKUA 7 September
1955-2000.
Purbaya
JR, 2002. Mengenal dan Memanfaatkan Khasiat Buah Mengkudu. Bandung : CV. Pionir
Jaya.
Robert
KM;Daryl KG;Peter AM;et al, 2003. Oksidasi Biologi. Dalam Buku Biokimia Harper.
Edisi 25. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. hlm 123.
Schteingart
DE, 1995. Metabolisme Glukosa dalam Diabetes Melitus. Dalam (Price SA, Wilson
LM,ed) Patifisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4 Buku II.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal 1111-1115.
Slamet
Suyono, 2006. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid
III.Edisi Keempat. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal 1874-1875.
Suharmiati,
2003. Pengujian Bioaktivitas Anti Diabetes Melitus Tumbuhan Obat.Majalah Cermin
Dunia Kedokteran No 140 tahun 2003. Diakses dari http : //www.kalbefarma.com
pada tanggal 30 Januari 2007.
Sulistyowati
Tuminah, 2000. Radikal Bebas dan Antioksidan. Majalah Cermin Dunia Kedokteran,
No 128.Diakses dari http //:www.kimiafarma.com
Sunita Almatsier, 2003.
Vitamin dan Vitamin Larut dalam Lemak. Dalam Buku Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Suweino dkk, 2004. Kemampuan
Sari Mengkudu (Morinda citrifolia ) dalam Menangkal Stress Oksidatif Akibat
Pemberian CCl
pada Tikus. Prosiding
Seminar Nasional dan Pra Kongres PBBMI
pada 2 Oktober 2004 di Yogyakarta.
Syafril Syahbudin, 2000.
Peran Radikal Bebas dan Antioksidan pada Proses Penuaan pada Diabetes Melitus.
Naskah Lengkap Simposium Pengaruh Radikal Bebas Terhadap Penuaan dalam Rangka
Lustrum IX Fakultas Kedokteran universitas Andalas Padang 7 September
1955-2000.
WHO Technical Report
Series,2001. Diakses dari http //:www.who.com
Yudkin, John S, 1992. Effect
of Vitamin C on Glycosylation of Protein. Diabetes 41 : 167-73.
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjEqaqErKDTAhXFnpQKHW6yA4gQFggpMAE&url=http%3A%2F%2Frepo.unand.ac.id%2F2420%2F1%2FARTIKEL_ILMIAH_husnil.doc&usg=AFQjCNEGR-uyd5MnFmah1SVbfPdGE6c_Rw&sig2=N1-_c2s47vTi-QJVsgawAA&bvm=bv.152180690,d.dGo
Komentar
Posting Komentar